JATAM Muntilan Siapkan Program Pemberdayaan Berkelanjutan, Budidaya Anggur Jadi Langkah Awal

JATAM Muntilan

MAGELANG — Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muntilan mulai mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan dan potensi ekonomi. Langkah awal dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bintek) Budidaya Anggur yang digelar di SMK Muhammadiyah 1 Muntilan.

Sebanyak 65 peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Magelang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai budidaya anggur sekaligus kesempatan melihat praktiknya secara langsung di kebun.

Bintek menghadirkan Budi Cipta Jaya, praktisi budidaya anggur, sebagai pemateri. Kehadiran praktisi diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih konkret kepada peserta sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat langsung diterapkan di lingkungan masing-masing.

Ketua JATAM Muntilan, Sugiranto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda pertama yang dilaksanakan setelah kepengurusan JATAM PCM Muntilan dilantik.

“Ini kegiatan pertama pasca kami dilantik. Selanjutnya akan diikuti bintek-bintek berikutnya, seperti budidaya ayam Elba, budidaya anggrek, dan perikanan,” ujar Sugiranto.

Menurutnya, JATAM ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari lingkungan sekitar.

“Kami berharap masyarakat memahami cara budidaya anggur yang tepat. Kami bersama tim mencoba menunjukkan bahwa budidaya anggur itu mudah. Meski di ruang terbatas, lahan yang ada bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ini bisa menambah nilai ekonomi,” jelasnya.

Sugiranto menambahkan, program JATAM ke depan akan diarahkan menjadi kegiatan yang berkelanjutan. Dengan demikian, peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan hasil pembelajaran dan saling berbagi pengalaman.

Ketua PCM Muntilan, Miftahudin, menyambut positif langkah tersebut. Ia menilai kegiatan JATAM dapat menjadi sarana memperkuat hubungan antara warga Muhammadiyah dengan para petani dan praktisi di bidang pertanian.

Ia berharap JATAM membangun kemitraan dengan berbagai kebun dan pekebun sehingga kegiatan pelatihan dapat diperluas dan memiliki dampak yang lebih nyata.

“Setelah kegiatan ini diharapkan ada tindak lanjut dalam bentuk aksi di lapangan, memanfaatkan tanah pekarangan untuk budidaya dan pengembangan anggrek, membentuk grup WhatsApp untuk komunikasi dan saling mengunjungi,” pesan Miftahudin.

Pelatihan dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, peserta mengikuti pembelajaran teori di aula. Materi yang disampaikan meliputi pembuatan media tanam, pemilihan bibit, teknik penanaman, pemupukan, hingga pemangkasan atau pruning.

Setelah mendapatkan pembekalan, peserta kemudian diajak menuju kebun anggur. Di lokasi tersebut, mereka dapat mengamati secara langsung berbagai jenis tanaman sekaligus melihat penerapan teknik budidaya yang sebelumnya telah dijelaskan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Beragam pertanyaan disampaikan kepada pemateri, terutama mengenai teknik perawatan, pemilihan bibit, serta kemungkinan mengembangkan tanaman anggur di lahan yang tidak terlalu luas.

Salah satu peserta, Woro Wigati, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia melihat pelatihan ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang bisa diterapkan di rumah.

“Ini pelatihan sangat bermanfaat. Kebetulan kami punya sedikit pekarangan. Saya akan manfaatkan pekarangan setelah ikut pelatihan agar bisa menambah pendapatan,” ungkap Woro.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi JATAM Muntilan dalam membangun gerakan pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. Pemanfaatan pekarangan, pengembangan keterampilan budidaya, serta penguatan jejaring antarpetani diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, setiap peserta mendapatkan bibit tanaman anggur untuk dikembangkan di lingkungan masing-masing. Bibit tersebut diharapkan menjadi awal dari praktik nyata sekaligus sarana untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan.

Kontributor: Nurul Abadi
Editor: Novi Setiaji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *